Majelis Mingguan : Tiap Malam Kamis Ba'da Isya, Dilanjutkan Dengan Ziarah Ke Makam Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad (Habib Kuncung).

Selasa, 12 Oktober 2010

Teks Qasidah 'ala YaAllah bi nadzroh




أَلاَ يَا الله بِنَظْرَة مِنَ الْعَيْنِ الرَّحِيْمـَة

Ya Allah ! limpahkanlah kurnia rahmat-Mu

تُدَاوِي كُلَّ مَا بِي مِنْ أَمْرَاضٍ سَقِيْمَة
...
Yang dapat menyembuhkan semua penyakit-penyakit yang ada padaku

ألاَ ياَ صَاحِ يا صَاحِ لاَ تَجْزَعْ وتَضْجَرْ

Wahai kawanku! Wahai kawanku! Janganlah engkau gelisah dan jangan bosan

وسَلِّمْ لِلْمَقَادِيْـر كَيْ تُحْمَدْ وتُؤْجـَرْ

Serahkanlah pada takdir agar engkau dipuji dan di beri pahala

وَكُـنْ رَاضِي بِمَا قَدَّرَ المَوْلَى ودَبَّـر

Dan jadilah hamba yang redha atas apa yang telah di takdirkan Allah, dan diaturkanNya

وَلاَ تَسْخَطْ قَضَا اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ اْلأَكْبَر

Dan janganlah engkau ingkar akan takdir Allah Tuhan Arsy yang

Maha Besar

وَكُنْ صَابِرْ وَشَاكِرْ

Jadilah engkau orang yang bersabar dan bersyukur

تَكُنْ فَائِزْ وَظَافِـرْ

Maka engkau akan menjadi orang yang berjaya dan menang

وَمِنْ أَهْلِ السَّرَائـِر

Dan menjadi kelompok orang orang ahli sir (rahsia)

رِجَالِ اللهِ مِنْ كُلِّ ذِيْ قَلْبٍ مُنـَوَّرٍ

Yaitu hamba-hamba Allah yang memiliki hati yang bercahaya

مُصَفًّى مِنْ جَمِيْعِ الدَّنَسِ طَيِّبٍ مُطَهَّرٍ

Yang bersih dari segala noda (kotoran hati), baik dan suci

وَذِهْ دُنْيـَا دَنِيـَّة حَوَادِثُهَا كَثِـيْرَة

Dunia ini hina, dan banyak kejadian-kejadiannya

وَعِيْشَـتُهَا حَقِيْرَة وَمُدَّتُهَا قَصـِيْرَة

Dan kehidupan dunia itu hina, serta masa untuk hidup itu singkat

وَلاَ يَحْرِصْ عَلَيْهَا سِوَى أَعْمَى الْبَصِيْرَة

Dan tidak ada orang yang rakus akan dunia melainkan orang yang buta hatinya

عَدِيْمُ الْعَقْلِ لَوْ كَانَ يَعْقِلْ كَانَ أَفْكـَر

Yang tidak berakal, yang apabila ia benar-benar berakal ia akan berfikir

تَفَكِّرْ فِي فَنَاهـَا

Berfikirlah akan dunia yang tidak kekal

وَفِي كَثْرَةِ عَنَاهَا

Dan penderitaannya (dunia) yang banyak.

وَفِي قِلَّةِ غِنَاهـَا

Dan akan kekayaannya (dunia) yang sedikit.

فَطُوْبَى ثُمَّ طُوْبَى لِمَنْ مِنْـهَا تَحَـذَّرْ

Maka beruntunglah dan sungguh beruntung bagi siapa yang berhati-hati dari

pada dunia

وَطَلَّقَهَا وَفِي طَاعَةِ الرَّحْمنِ شَمَرْ

Dan menceraikannya (dunia), dan bersiap-siap menuju kepada ketaatan Allah.

أَلاَ يَا عَيْن جُوْدِيْ بِدَمْعٍ مِنْكِِ سَائِـلْ

Wahai mata! Curahkanlah dari padamu air mata yang mengalir

عَلَى ذَاكَ الْحَبِيْبِ الَّذِيْ قَدْ كَانَ نَازِلْ

Untuk seorang kekasih yang telah di utus (Nabi Muhammad s.a.w.)

مَعَنَا فِي الْمَرَابِعْ وَأَصْبَحَ سَفَر رَاحِلْ

Ia bersama kami dan sekarang telah pergi

وَأَمْسَى الْقَلْبُ وَالْبَالُ مِنْ بَعْدِهِ مُكَدَّر

Maka hati ini setelah kepergiannya menjadi menjadi sedih

وَلكـِنْ حَسْبِيَ الله

Akan tetapi cukup bagiku, Allah

وَكـُلُّ الأَمْرِ للـهِ

Dan segala urusan akan kembali pada Allah

وَلاَ يَبْقَى سِوَى الله

Dan tiada yang kekal kecuali Allah

عَلَى بَشَّارِ جَادَتْ سَحَائِبْ رَحْمَةِ الْبَرّ

Semoga Allah memberikan curahan rahmatnya atas penghuni Bassyar (tiga tempat pengkuburan para Auliya).

وَحَيَّاهُمْ بِرَوْحِ الرِّضـَا رَبِّي وَبَشَّـرْ

Dan semoga Dia (Allah) mencurahkan keredhaannya atas mereka serta memberi khabar gembira

بِهَـا سَادَاتُـنَا وَالشُّيُوْخُ الْعَارِفُوْنَـا

Disana terdapat tuan-tuan dan guru-guru kami yang ‘arif

وَأَهـْلُوْنَا وَأَحْبـَابِ قَلْبِيْ نَازِلُوْنَـا

keluarga kami dan orang-orang yang kami cintai

وَمَنْ هُمْ فِي سَرَائِرِ فُؤَادِيْ قَاِطِنُوْنَـا

Dan mereka orang-orang yang berada dalam lubuk hatiku

بِسَاحَةِ تُرْبِهَا مِنْ ذَكِيِّ الْمِسْكِ أَعْطَر

Mereka berada di tempat yang debunya tercium aroma bau kasturi

مَنَازِلُ خَيْرِ سَادَة

Tempat-tempat persinggahan bagi sebaik-baik manusia

لِكُلِّ النَّاسِ قَادَة

Mereka pemimpin bagi umat manusia

مَحَبَّتَهُمْ سَعَادَة

Dalam mencintai mereka terdapat kebahagiaan

أَلاَ يَا بَخْت مَنْ زَارَهُمْ بِالصِّدْقِ وانْدَر

Sungguh beruntung bagi siapa yang menziarahi mereka dengan tulus dan datang

إِلَيْـهِمْ مُعْتَنـِي كُلُّ مَطْلُوْبِهِ تَيَسـَّرْ

Kepada mereka dengan penuh perhatian maka semua permintaannya akan dipermudahkan

KISAH PEMUDA ISTIMEWA


Dalam suatu kesempatan Allah SWT memberikan wahyu kepada Nabi Sulaiman AS untuk pergi ke laut agar melihat sesuatu yang mengagumkan dan mendapati hikmah dibaliknya. Nabi Sulaiman AS pun keluar dari istananya menuju laut bersama-sama jin dan manusia. Sesampainya ditepi laut, beliau tak melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, lantas Nabi Sulaiman AS berkata kepada jin Ifrit :”Menyelamlah engkau kedasar laut ini dan kembalilah dengan membawa sesuatu yang menarik didalamnya.” Jin Ifrit pun menyelam hingga lama dan kembali lagi, lalu berkata : “wahai nabi Sulaiman , sungguh aku telah menyelam kedalam laut dengan perjalanan yang amat jauh, tetapi tidak sampai kedasarnya dan juga tidak kulihat sesuatu yang menarik.”

Kemudian Nabi Sulaiman AS memerintahkan jin yang lain. Sama halnya dengan jin yang pertama, ia tidak juga menemukan sesuatu pun yang menarik. Walaupun jin yang kedua ini menyatakan telah menyelam sebanyak dua kali. Lalu nabi Sulaiman memerintah seorang manusia yaitu Ashif bin Burkhiya, menteri beliau yang disebut dalam Al Qur’an sebagai orang yang mengerti ilmu kitab. Melalui Ashif, akhirnya nabi Sulaiman AS dibawakan kubah yang mempunyai 4 pintu, masing-masingnya terbuat dari intan, yaqut, mutiara, dan zabarjad yang hijau.

Lalu pintu kubah itu terbuka seluruhnya, namun setetes air pun tidak masuk kedalamnya, padahal kubah itu berada di dasar laut yang paling dalam. Di dalam kubah terdapat seorang pemuda yang berpakaian putih bersih dan baik sedang melaksanakan shalat. Nabi Sulaiman AS masuk kedalamnya dan mengucapkan salam lalu berkata kepada pemuda itu :”Apakah yang membuatmu bisa bertempat tinggal di dasar laut ini?” Pemuda itu pun menjawab : “ Wahai Nabi Allah, sesungguhnya ayahku itu orang yang lumpuh dan ibuku tuna netra, aku selalu berusaha melayani mereka selama 70 tahun.”

Ketika ibuku akan meninggal dunia, beliau berdoa :”Ya Allah, berilah anakku usia yang panjang untuk beribadah kepadaMu.” Begitu juga ketika ayahku akan meninggal dunia, beliau berdoa :”Ya Allah, berilah anakku kesempatan untuk beribadah kepadaMu disuatu tempat yang kiranya tidak bisa dilalui oleh syetan.” Setelah aku memakamkan jenazah ayah dan ibuku, lalu aku pergi menuju tepi laut dan kulihat kubah ini persis dihadapanku. Aku pun masuk ke dalam kubah tersebut untuk melihat keindahan di dalamnya. Akhirnya sesosok Malaikat datang kepadaku dan membawaku bersamanya ke dalam laut ini.

Kemudian nabi Sulaiman AS pun bertanya :”kira-kira kapankah kau sampai ke tepi laut ini?” pemuda itu menjawab :”Ketika pada zaman nabi Ibrahim AS.”

Nabi Sulaiman mengingat tentang sejarah Nabi Ibrahim AS yang bisa diperkirakan 2400 tahun silam. Sungguh pun demikian, pemuda itu masih tetap muda, tak ada satupun uban di rambut kepalanya.

Nabi Sulaiman AS bertanya :”Bagaimanakah minuman dan makananmu?” Pemuda itu menjawab :” Setiap hari ada seekor burung hijau membawakan sesuatu yang kuning di patuknya, lalu aku memakannya. Aku bisa merasakan segala kenikmatan didunia dengan memakannya. Aku tidak merasa lapar dan haus, panas dingin dan tidur pun tidak ada keinginan lagi, aku tidak merasa susah dan jemu sama sekali.

Kemudian nabi Sulaiman AS berkata :”Apakah engkau senang untuk ikut bersama kami?” Apakah kau ingin kukembalikan lagi ke tempatmu?” Pemuda itu menjawab :” Wahai Nabi Allah, aku ingin kembali ke tempatku semula.” Dan pada akhirnya Nabi Sulaiman AS memerintahkan Ashif bin Burkhiya untuk mengembalikan pemuda yang berbakti pada kedua orang tuanya itu ke tempatnya semula di dasar lautan yang terdalam demi menikmati keindahan ibadah pada Allah SWT.

(Dikutip dari kitab Irsyadul Ibad Ila Sabilir Rasyad)